Mengapa Aku Memilih Dakwah Salafiyyah?
Mengapa Aku Memilih Dakwah Salafiyyah? adalah tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Muhammad Hisyam Thahiri dan diterjemahkan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah Hafidzahumullah pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 H / 7 Februari 2026 M.
Tabligh Akbar Tentang Mengapa Aku Memilih Dakwah Salafiyyah?
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا
“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu.” (QS. Al-Jatsiyah[45]: 18)
Aqidah yang dipraktikkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat merupakan jalan yang diajarkan beliau kepada mereka, lalu dipraktikkan oleh seluruh kaum muslimin. Keadaan ini terus berlangsung hingga muncul benih-benih perpecahan dan perselisihan yang disebabkan oleh tangan-tangan tersembunyi yang menginginkan kerusakan bagi Islam dan pemeluknya.
Munculnya Fitnah Dan Perpecahan
Dalam sejarah, muncul seseorang bernama Abdullah bin Saba yang berasal dari kalangan Yahudi. Ia menampakkan keislaman secara lahiriah, namun sebenarnya bekerja secara rahasia untuk merusak Islam dari dalam. Ia menyebarkan dua pemikiran yang sangat berbahaya.
Pertama, ia menghasut kaum muslimin untuk memberontak kepada pemerintah dan mengganti kekuasaan dengan cara kekerasan atau kudeta. Kedua, ia berusaha mencela para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Tindakan mencela para sahabat pada hakikatnya adalah upaya merusak otoritas Al-Qur’an dan hadits, karena kedua sumber hukum tersebut sampai kepada umat melalui perantaraan para sahabat. Jika kepercayaan terhadap sahabat runtuh, agama ini tidak lagi diambil dari Al-Qur’an dan hadits, melainkan berpindah pada pendapat, akal, dan perasaan semata.
Abdullah bin Saba hanyalah salah satu contoh tokoh yang kedoknya tersingkap di kemudian hari. Gerakan semacam ini bekerja sama menyebarkan fitnah hingga berujung pada peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu. Setelah itu, muncullah sekte Khawarij yang memiliki pimpinan sendiri pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu. Fenomena ini merupakan buah dari seruan, hasutan, dan ajakan menyesatkan dari orang-orang seperti Abdullah bin Saba.
Dari Kekuatan Yang Satu Menjadi Terpecah-Pecah
Pada mulanya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat merupakan satu kekuatan yang sangat erat dan saling berpegangan. Mereka mengamalkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)
Mereka juga menerapkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, kehadiran fitnah Ibnu Saba mengubah kesatuan tersebut menjadi komplotan dan kelompok-kelompok yang saling berselisih. Islam dan kaum muslimin mengalami koyaknya persatuan hingga terpecah menjadi berbagai sekte. Kelompok Khawarij sendiri tidak menjadi satu kesatuan; Khawarij Kufah mengkafirkan Khawarij Bashrah, Khawarij Bashrah mengkafirkan Khawarij Khurasan, dan seterusnya. Selain itu, muncul pula kelompok yang mencela para sahabat. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi setiap muslim untuk melihat kembali manakah kelompok utama yang berada di atas jalan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum.
Akibat hasutan dari berbagai pemikiran kufur yang menyusup, muncullah sekte-sekte seperti Al-Qadariyah, Al-Murjiah, Al-Jahmiyah, dan Al-Mu’tazilah. Keragaman jemaah ini seringkali membingungkan seorang mukmin dalam menentukan siapa yang benar untuk diikuti.
Pemilihan sebuah manhaj atau ideologi tidak boleh dilakukan hanya dengan menutup mata atau sekadar mengikuti pilihan kerabat dan saudara. Seseorang harus menentukan pilihan berdasarkan dalil dan bukti yang nyata, dengan merujuk pada apa yang telah dipilih oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Perpecahan Sebagai Takdir Allah
Perpecahan merupakan takdir kauniah yang pasti terjadi dan tidak mungkin dielakkan. Allah ‘Azza wa Jalla telah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an:
وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ
“Tetapi mereka senantiasa berselisih (dalam beragama), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.” (QS. Hud[11]: 118-119)
Ayat ini menunjukkan bahwa tugas seorang muslim adalah berupaya sekuat tenaga agar tidak termasuk ke dalam golongan yang terus-menerus berselisih, melainkan menjadi bagian dari pengecualian yang disebutkan, yaitu orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jalan Keselamatan
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sosok yang sangat menyayangi umatnya. Beliau telah menjelaskan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Beliau memperingatkan bahwa semua golongan tersebut terancam masuk neraka karena melakukan kebid’ahan dan perkara baru yang diada-adakan dalam agama, kecuali satu golongan saja.
Ketika para sahabat bertanya mengenai siapakah satu golongan yang selamat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
“Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan cara yang aku dan para sahabatku hari ini kerjakan.” (HR. At-Tirmidzi)
Inilah alasan mendasar bagi kewajiban mengikuti dakwah salafiyyah karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat telah menelusuri jalan agama ini dengan dalil yang kuat.
1. Landasan Wahyu Dalam Berdakwah
Hal yang mendasari pemilihan jalan ini dapat dijelaskan melalui sebuah perenungan. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya oleh orang-orang musyrik, Yahudi, Nasrani, munafik, bahkan oleh kaum muslimin sendiri, beliau tidak pernah menjawab berdasarkan akal, kesimpulan pribadi, atau adat istiadat leluhur.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa menjawab setiap persoalan dengan Al-Qur’an. Jika wahyu belum turun, beliau memerintahkan penanya untuk bersabar hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan penjelasan melalui wahyu. Inilah penyebab paling mendasar mengapa dakwah sunnah, yakni dakwah yang berlandaskan Al-Qur’an, sunnah, dan pemahaman salaful ummah (pendahulu umat), menjadi pilihan. Dakwah ini dibangun di atas pondasi wahyu, bukan di atas akal, perasaan, falsafah, atau sekadar pendapat orang perorang. Ciri khas inilah yang menjadikan manhaj ini sebagai satu-satunya jalan yang pantas diikuti.
Mengikuti Wahyu, Bukan Perkataan Manusia
Dakwah salafiyyah berdiri tegak di atas firman Allah ‘Azza wa Jalla, Rabb semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin-pemimpin.” (QS. Al-A’raf[7]: 3)
Realitas saat ini menunjukkan banyak orang yang lebih memilih mengikuti perkataan para wali atau tokoh tertentu daripada mengikuti wahyu yang diturunkan dari langit. Dakwah salafiyyah hadir untuk mengajak kembali kepada wahyu. Oleh karena itu, setiap insan yang berakal dan setiap muslim yang menghendaki keselamatan bagi dirinya sudah sepantasnya memilih dakwah ini.
Peringatan Terhadap Sikap Menolak Sunnah
Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perihal Ahli Kitab yang tidak mengikuti kitab suci, melainkan mengikuti para rahib dan pendeta mereka. Begitu pula dengan orang-orang munafik yang meskipun menisbatkan diri kepada Islam, mereka enggan mengikuti firman Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai sikap mereka:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.`” (QS. Al-Baqarah[2]: 170)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang menolak sunnah. Dalam Sunan Abi Dawud dengan sanad yang hasan, beliau bersabda:
لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِنْ أَمْرِي مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لَا نَدْرِي مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ
“Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian duduk bersandar di atas dipannya, lalu datang kepadanya perintah dari perintahku, baik berupa perintah maupun larangan, kemudian ia berkata, ‘Kami tidak tahu, apa yang kami temukan dalam Kitabullah (Al-Qur’an), itulah yang kami ikuti.`” (HR. Abu Dawud)
Ketahuilah bahwa apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hakikatnya sama dengan apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sesuai dengan sabda beliau:
أَلَا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
“Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sama dengan apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. At-Tirmidzi)
2. Ciri Khas Dakwah Salafiyyah Dalam Memahami Wahyu
Alasan kedua memilih dakwah salafiyyah, yakni dakwah Al-Qur’an dan sunnah, adalah karena dakwah ini memiliki ciri khas dalam memahami wahyu sebagaimana dipahami pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat. Al-Qur’an dan sunnah tidak dipahami hanya dengan akal semata atau sekadar menggunakan perasaan.
Pemahaman yang digunakan adalah pemahaman salaf. Ketika menafsirkan sebuah ayat, rujukan utama adalah penjelasan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, serta para tabiin seperti Ikrimah, Mujahid, dan Alqamah. Hal ini dilakukan agar tidak terjebak dalam memahami Al-Qur’an menurut pendapat pribadi. Saat ini, banyak orang yang merasa ahli Al-Qur’an namun menafsirkannya hanya berdasarkan akal atau perasaan sendiri. Seorang muslim hendaknya memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar terhindar dari perbuatan semacam itu.
Al-Qur’an mengandung penjelasan atas segala sesuatu yang dibutuhkan dalam urusan agama. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS. An-Nahl[16]: 89)
Begitu pula dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terdapat kesempurnaan penjelasan yang mencukupi kebutuhan umat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali nabi itu wajib menunjukkan umatnya kepada setiap kebaikan yang ia ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari setiap keburukan yang ia ketahui bagi mereka.” (HR. Muslim)
Agar benar dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah, penilaian para ulama salaf harus dijadikan acuan utama.
Kewajiban Mengikuti Keimanan Para Sahabat
Perintah untuk menyamakan kualitas iman, aqidah, dan ibadah dengan para sahabat telah ditegaskan di dalam Al-Qur’an. Iman dan keyakinan seorang muslim harus selaras dengan imannya para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ
“Berimanlah kamu sebagaimana orang lain (para sahabat Nabi) telah beriman.” (QS. Al-Baqarah[2]: 13)
Ayat ini merupakan perintah yang jelas bahwa standar keimanan yang benar adalah apa yang telah dipraktikkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau.
Mengikuti Standar Keimanan Generasi Salaf
Mengikuti jalan Salafush Shalih merupakan upaya untuk menerapkan wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terutama saat umat menghadapi perpecahan.
Dalam Sunan Abi Dawud dan Tirmidzi, terdapat riwayat dengan sanad yang shahih dari sahabat Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pesan yang sangat menyentuh hingga hati para sahabat bergetar dan air mata berlinang. Para sahabat pun berkata, “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah pesan perpisahan, maka berilah kami wasiat.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ
“Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup setelahku, maka ia akan melihat perpecahan yang banyak. Maka ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelah ku. Pegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Serta hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
3. Golongan Yang Selamat Dan Mendapat Pertolongan
Mengikuti manhaj dan aqidah salaf merupakan cerminan dari aqidah golongan yang selamat (Al-Firqah An-Najiyah) serta golongan yang mendapat pertolongan Allah (Ath-Thaifah Al-Manshurah). Dalam Shahih Bukhari, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan keberadaan kelompok ini:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tetap berada di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang yang menghinakan maupun orang yang menyelisihi mereka.” (HR. Bukhari)
Keteguhan dalam mengikuti ajaran asli ini menjadi pembeda di tengah banyaknya golongan. Dalam hadits Tirmidzi dengan sanad yang hasan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan peta perpecahan tersebut. Beliau menyebutkan bahwa orang Yahudi terpecah menjadi 71 golongan dan orang Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Beliau kemudian bersabda:
اِفْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً، قِيلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu firqah (golongan), dan orang-orang Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua firqah. Dan umat ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga firqah, semuanya di neraka kecuali satu golongan. Ada yang bertanya: ‘Siapakah mereka wahai Rasulullah?’ Maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Yaitu orang-orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini’.” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam riwayat lain yang menafsirkan hadits ini, disebutkan redaksi wahiyal jama’ah, yang berarti mereka adalah Al-Jama’ah. Maknanya, mereka adalah orang-orang yang teguh mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat sebagaimana kondisi sebelum terjadinya perpecahan umat
Keyakinan bahwa manhaj salaf harus diikuti didasarkan pada kenyataan bahwa manhaj ini merupakan metode para imam kaum muslimin terdahulu. Mulai dari generasi sahabat, tabi’in, hingga tabiut tabiin, termasuk di dalamnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, An-Nasa’i, serta Ibnu Majah. Mereka semua berada di atas landasan yang sama.
Fenomena saat ini menunjukkan adanya pemilahan dalam beragama, seperti seseorang yang mengaku bermazhab Hanafi dalam fiqih namun menganut aqidah Maturidiyah, atau bermazhab Syafi’i namun beraqidah Asy’ariyah. Jika seseorang benar-benar jujur mengikuti mazhab imamnya, semestinya aqidah dan ibadahnya juga mengikuti imam tersebut secara utuh. Dakwah salafiyyah adalah dakwah yang penuh berkah karena konsisten mengikuti para imam tersebut secara menyeluruh. Imam Abul Qasim Al-Lalakai dalam kitabnya yang berjumlah tujuh jilid menerangkan bahwa aqidah yang berkah ini dinukil dari lebih dari 500 ulama dari berbagai penjuru negeri yang berbeda-beda.
4. Dakwah Salaf Menjaga Kemurnian Islam Dari Bid’ah
Pemilihan aqidah salaf bertujuan untuk menjaga agama dari tambahan, bid’ah, maupun perkara yang diada-adakan. Sebagaimana para ulama salaf tidak berani menambahkan hal baru dalam urusan aqidah, ibadah, maupun metode dakwah, demikian pula seharusnya sikap seorang muslim. Mereka ingin mempertahankan Islam tetap dalam satu warna yang murni, sehingga kebenarannya tampak terang benderang bahkan dari kejauhan.
Berbeda halnya dengan para pelaku kebid’ahan yang senantiasa berpecah belah. Masing-masing kelompok menorehkan warna baru sehingga warna asli Islam menjadi tersamarkan oleh banyaknya warna buatan manusia. Kondisi tersebut menyebabkan pengikutnya menjadi bingung untuk mengenali warna Islam yang paling awal dan murni sebagaimana yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat.
Ulama Sebagai Penjaga Kemurnian Agama
Sebuah perenungan penting bagi setiap muslim adalah mengenali siapa para ulama yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pengawal agama ini. Penjaga agama ini bukanlah mereka yang mengikuti berbagai tarekat, bukan dari golongan Khawarij, dan bukan pula orang-orang yang mendewakan rasio atau ahli kalam. Sejarah mencatat bahwa tidak ditemukan satupun imam besar yang menjadi wasilah terjaganya agama ini berasal dari kalangan pengekor bid’ah atau ahli kalam.
Setiap imam yang Allah ‘Azza wa Jalla munculkan di setiap masa untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an dan hadits adalah mereka yang mengikuti manhaj salaf. Mereka adalah para ulama yang menukil dan mempertahankan ajaran sesuai dengan apa yang diturunkan. Sebagai contoh, Imam Bukhari bukanlah seorang tokoh tarekat dan sangat jauh dari praktik-praktik semacam itu. Begitu pula dengan para imam hadits dan imam fiqih lainnya. Kenyataan ini membimbing akal yang sehat dan jernih untuk semakin yakin bahwa dakwah yang benar dan pantas diikuti adalah dakwah para ulama salaf.
Peringatan Terhadap Perkara Baru Dalam Agama
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan keras:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasai)
Mustahil bagi seorang ahli bid’ah untuk melarang orang lain mengerjakan kebid’ahan, karena merekalah yang justru membuka pintu-pintu perkara baru tersebut. Sebaliknya, kemurnian agama ini, mulai dari tata cara shalat hingga rincian aqidah, tetap terjaga sebagaimana di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena kegigihan para ulama salaf. Mereka adalah satu-satunya golongan yang berani menjaga kemurnian syariat dari segala bentuk penambahan dan pengurangan.
5. Dakwah Salaf Mengajarkan dari yang Paling Dasar
Pemilihan aqidah salaful ummah didasarkan pada prinsip bahwa aqidah ini merupakan penjaga modal utama seorang hamba dalam beragama. Perjuangan ini dimulai dari prinsip yang paling dasar, yaitu mengajak kepada tauhid, menyeru kepada sunnah, dan mengupayakan persatuan umat. Hal ini selaras dengan dakwah yang dibawa oleh para nabi dan rasul terdahulu.
Hubungan antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hamba-Nya tidak ditentukan oleh nasab atau garis keturunan, melainkan melalui upaya dan sebab yang ditempuh oleh hamba tersebut. Keselamatan tidak dapat diraih hanya dengan sekedar pengakuan atau lisan tanpa amal nyata. Hal ini berbeda dengan anggapan orang Yahudi yang meyakini bahwa nasab keturunan menjamin mereka masuk surga, atau sebagian orang Nasrani yang merasa cukup dengan keyakinan tertentu tanpa amal.
Beberapa sekte pelaku kebid’ahan juga sering kali menjanjikan jaminan surga secara mutlak bagi pengikut tarekatnya tanpa mengindahkan rukun iman dan rukun Islam yang benar. Sebaliknya, aqidah salaf dibangun di atas fondasi amal dan kesiapan untuk menerapkan syariat. Tidak ada keselamatan tanpa ketundukan untuk beribadah kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
“Wahai sekalian manusia! Sembahlah, beribadahlah kepada Rabbmu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 21)
Jalan keselamatan yang hakiki adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dakwah salafiyyah memiliki prinsip dasar untuk mengajak manusia agar berhenti menghambakan diri kepada sesama makhluk dan beralih menghambakan diri hanya kepada Tuhan seluruh makhluk.
Dakwah ini juga bertujuan membimbing umat agar tidak lagi sekadar mengikuti tokoh-tokoh tertentu secara fanatik, melainkan kembali mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara utuh. Fokus utamanya adalah membawa manusia keluar dari perpecahan menuju persatuan yang hakiki, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para salafus saleh.
6. Dakwah Salafiyyah Menggabungkan Ilmu dan Amal
Pemilihan aqidah yang dipegang teguh oleh para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum dan salafus saleh didasarkan pada keunggulannya dalam menggabungkan ilmu dan amal. Aqidah ini tidak dibangun di atas perdebatan kusir, filsafat, atau sekadar opini yang tidak berdasar. Sebaliknya, ia memiliki pondasi kokoh yang menuntut penerapan nyata dalam kehidupan.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa memerintahkan para sahabat untuk beramal. Mayoritas ayat di dalam Al-Qur’an pun memerintahkan pembuktian keyakinan melalui perbuatan nyata. Jika seseorang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, ia harus menyembah-Nya agar mendapatkan perlindungan. Jika ia mengharapkan pahala, ia harus beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar keinginan tersebut dikabulkan. Inilah hakikat aqidah yang menghimpun ilmu dan amal secara utuh.
7. Dakwah Salafiyyah Menjaga dari Perpecahan
Aqidah salaful ummah yang penuh keberkahan ini merupakan sarana untuk menjaga umat dari perpecahan dan fragmentasi kelompok. Aqidah inilah yang mampu merealisasikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 103)
Aqidah salaf mengajak manusia untuk bersatu sebagaimana para ulama salaf terdahulu telah bersatu. Para pengikut dakwah ini adalah orang yang paling bersemangat mengajak umat untuk bersatu di atas landasan Al-Qur’an dan sunnah demi menyelamatkan agama. Persatuan ini juga mencakup ketaatan kepada waliyyul amr (pemerintah kaum muslimin) guna menjaga stabilitas di tengah masyarakat. Dengan demikian, kemuliaan dapat diraih baik di dunia maupun di akhirat.
8. Aqidah Wasathiyah: Jalan Tengah Yang Ideal
Dakwah yang penuh berkah ini dipilih oleh mereka yang memiliki akal sehat karena sifatnya yang wasathiyah (pertengahan) dan ideal. Aqidah ini jauh dari sifat ekstrem atau berlebih-lebihan (ghuluw) sebagaimana yang ada pada kaum Khawarij. Disisi lain, ia juga jauh dari sikap meremehkan sebagaimana sekte Murjiah.
Dalam memahami nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, aqidah ini berada di tengah antara kelompok Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk) dan kelompok Mu’aththilah (yang menolak sifat-sifat Allah). Ahlus Sunnah menetapkan nama dan sifat Allah sebagaimana mestinya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa meniadakan maknanya.
Selain itu, aqidah salaf menjauhi sikap berlebihan dalam mengkultuskan tokoh. Kedudukan seorang ulama diukur secara objektif menggunakan timbangan Al-Qur’an dan sunnah. Karakteristik yang ideal dan seimbang ini menjadi alasan yang sangat kuat bagi setiap muslim untuk memilih dan mengikuti aqidah salaf.
Umat Terbaik Dan Sifat Pertengahan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 143)
Aqidah ini merupakan wasilah untuk mengenal agama serta menjadi standar dalam menilai orang lain, baik mereka yang bersikap berlebihan maupun yang meremehkan. Agama ini dibangun di atas sifat pertengahan yang ideal dan merupakan yang terbaik. Makna al-wasat sebagaimana ditafsirkan oleh para sahabat dan ulama salaf adalah umat yang adil dan terbaik.
8. Aqidah Salaf Mudah Dipahami
Pemilihan aqidah salaf didasarkan pada sifatnya yang mudah dan gampang dipahami. Tidak ditemukan kepelikan, kesulitan, atau perincian filosofis yang membingungkan. Aqidah ini tidak diombang-ambingkan oleh pembahasan ilmu mantiq, perasaan, atau perdebatan yang rumit. Seorang penggembala kambing yang awam dapat memahami aqidah ini dengan benar, sebagaimana seorang profesor atau doktor di perguruan tinggi juga dapat memahaminya.
Pondasi utama aqidah ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Keyakinan ini tidak dibangun atas dasar ucapan tokoh tertentu, baik dari golongan Asy’ariyah, Maturidiyah, Khawarij, maupun sekte lainnya. Landasannya murni mengikuti wahyu.
Keberadaan aqidah ini dapat ditemukan dengan mudah dalam berbagai buku hadits dan tafsir para ulama terdahulu. Hal ini berbeda dengan paham tarekat tertentu yang sulit mendapatkan pedoman dalam kitab-kitab induk para ulama salaf.
Jika ada yang mempertanyakan referensi mengenai pembahasan iman kepada kita, rujukan utamanya adalah kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an, yaitu Shahih Bukhari. Di dalamnya, Imam Bukhari mengawali dengan Kitab Permulaan Wahyu dan langsung melanjutkannya dengan Kitabul Iman.
Demikian pula jika muncul pertanyaan mengenai tauhid, Imam Bukhari menutup kitab shahihnya dengan pembahasan Kitabut Tauhid. Bagi mereka yang mempertanyakan perintah berpegang teguh pada sunnah, Sahih Bukhari telah memuat bab khusus bertajuk Kitabul I’tisham bil Kitabi was Sunnah yang berisi perintah mengikuti Al-Qur’an dan sunnah serta peringatan terhadap kebid’ahan.
Semua penjelasan tersebut dinukil oleh para pakar hadits senior sejak abad kedua Hijriah, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ad-Darimi, Imam Ibnu Majah, dan ulama lainnya. Naskah ini bukan merupakan buatan baru, melainkan nukilan otentik dari generasi terdahulu.
Ciri khas dan keistimewaan terbesar aqidah ini adalah ia tidak dinisbatkan kepada sosok individu tertentu, melainkan kepada salaful ummah (generasi terdahulu umat ini). Banyak pemikiran yang menisbatkan diri kepada perorangan, seperti Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan al-Asy’ari, atau kelompok Muktazilah dan Khawarij. Namun, aqidah yang benar adalah aqidah yang hanya dinisbatkan kepada salaful ummah.
Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah menulis berbagai karya ilmiah selain kitab Shahih Bukhari untuk menjelaskan aqidah salafush shalih. Namun, tidak ada yang menyebut karya tersebut sebagai “aqidah Imam Bukhari”. Hal ini dikarenakan isi buku yang beliau tulis adalah rangkaian haddatsana dan akhbarana (telah menceritakan kepada kami dan telah mengabarkan kepada kami), yang semuanya merupakan riwayat yang dinukil dari generasi jauh sebelum masa beliau. Ini membuktikan bahwa aqidah salaf adalah sebuah nukilan murni dari wahyu dan generasi awal Islam.
9. Ilmu Dan Kasih Sayang Ahlus sunnah
Manhaj salaf dipilih karena para ulama dan pengikutnya adalah orang yang paling paham terhadap kebenaran sekaligus paling penyayang kepada umat. Ilmu mereka bersumber dari nukilan dalil yang valid, sementara kasih sayang mereka kepada umat dapat dibuktikan secara nyata.
Para ulama salaf tidak mengkafirkan orang yang berbeda paham. Mereka menilai pihak lain dengan timbangan Al-Qur’an dan sunnah secara adil. Berbeda halnya dengan ahli bidah; masing-masing sekte seringkali menyesatkan, mengkafirkan, bahkan menyatakan pihak lain telah keluar dari Islam seolah-olah pihak tersebut tidak memiliki nilai sama sekali.
Ahlus Sunnah memiliki prinsip yang berbeda. Jika seseorang melakukan kesalahan, Ahlus Sunnah akan tetap menghormati dan memelihara hak-hak orang tersebut. Mereka menyadari bahwa tidak ada manusia yang maksum atau terbebas dari kesalahan. Oleh karena itu, dalam menilai orang lain, Ahlussunnah berupaya menjelaskan kesalahan tersebut dengan penuh keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.
Keselamatan Melalui Manhaj Salaf
Setiap muslim hendaknya mengajak diri sendiri dan sesama untuk selalu berpegang teguh pada keyakinan yang dianut oleh para ulama salaf. Jalan ini merupakan satu-satunya sarana yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai fitnah dunia maupun azab akhirat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa)
Kewajiban mengikuti aqidah salaf ini ditegaskan pula oleh Imam Malik Rahimahullah dalam sebuah nukilan masyhur:
لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Tidak akan menjadi baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya.”
Meninggalkan Perpecahan Dan Kembali Kepada Tauhid
Dakwah salafiyyah mengajak umat untuk meninggalkan fanatisme kelompok dan kebanggaan pada nama tertentu, serta menghindari inovasi baru dalam perkara agama. Ajakan ini murni bertujuan agar kaum muslimin kembali berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar tercipta persatuan umat. Simbol terbesar dari seruan dakwah ini termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ
“Kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatupun, dan sebagaimana kita juga tidak boleh untuk menjadikan satu sama lain sebagai sembahan atau yang di agungkan selain Allah.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 64)
Dialog Ibnu Abbas Dengan Kaum Khawarij
Sejarah mencatat bahwa ketika kaum Khawarij muncul pada zaman Khalifah Ali Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengutus Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma untuk berdialog dengan mereka. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, yang dijuluki sebagai Habrul Ummah (tintanya umat), sang Tarjuman Al Qur’an (ahli tafsir Al-Qur’an), untuk menemui dan berdiskusi dengan kaum Khawarij. Dalam diskusi tersebut, Ibnu Abbas mengajukan pertanyaan retoris kepada mereka mengenai keberadaan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di kelompok mereka. Kaum Khawarij mengakui bahwa tidak ada satupun sahabat Nabi di tengah mereka.
Fakta ini menegaskan bahwa para sahabat lebih mengetahui isi Al-Qur’an daripada generasi setelahnya. Ketika kaum Khawarij merasa kalah dalam argumen, mereka mulai menghindar dengan dalih tidak ingin berdebat dengan Ibnu Abbas karena kemampuannya dalam berdiskusi. Inilah aqidah Ahlus Sunnah; setiap menghadapi suatu kasus atau praktik ibadah, kejelasan sumber dan anjurannya harus dipertanyakan secara mendasar, apakah memiliki landasan dalam Al-Qur’an atau tidak.
Dalam menyikapi berbagai kebiasaan di masyarakat, seperti membaca Al-Qur’an di makam atau membacakannya untuk orang yang telah meninggal dunia, diperlukan pencarian dalil dan perintah hadits yang melandasinya. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai petunjuk bagi mereka yang masih hidup.
Praktik membacakan kitab suci untuk orang mati dikhawatirkan menyerupai kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani yang membaca Taurat atau Injil bagi orang yang sudah meninggal. Aqidah ini adalah aqidah yang agung, murni, dan selamat, yang mencerminkan dakwah para nabi serta para sahabat sebagai pedoman hidup.
10. Keterbukaan Dakwah Dan Larangan Ajaran Rahasia
Aqidah yang benar tidak memiliki rahasia atau hal-hal yang disembunyikan. Segala sesuatu yang disampaikan kepada masyarakat umum sama dengan apa yang diajarkan kepada murid-murid secara khusus. Tidak ada sandi-sandi rahasia dalam ajaran ini. Sebagaimana ungkapan para ulama salaf, keberadaan sekelompok orang yang berbisik-bisik atau belajar secara sembunyi-sembunyi dalam urusan agama merupakan indikasi adanya penyimpangan.
Kesimpulannya, segala kebaikan terletak pada upaya mengikuti manhaj salaf, sedangkan segala keburukan berpangkal pada kebiasaan melakukan inovasi atau bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang belakangan (khalaf).
Kepatuhan Terhadap Risalah Allah
Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, seorang tabi’in sekaligus khalifah dari Bani Umayyah, memberikan sebuah pernyataan agung mengenai hakikat beragama. Beliau menjelaskan bahwa risalah atau ajaran ini berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla. Tugas Jibril ‘Alaihis Salam adalah menyampaikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian tugas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah menyampaikan risalah tersebut kepada umat manusia. Sementara itu, kewajiban setiap muslim adalah menerima, tunduk, serta patuh terhadap ajaran tersebut.
PENUTUP DAN DOA KONSISTENSI DI ATAS SUNNAH
Sebagai penutup, setiap insan hendaknya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar senantiasa diberikan ketetapan hati, bimbingan, serta kekuatan untuk tetap teguh berada di atas manhaj sunnah. Harapan terbesar seorang muslim adalah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mematikan kita di atas aqidah Ahlussunnah dan mengumpulkan kita semua kelak bersama para nabi di bawah bendera Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dengarkan dan Download Tabligh Akbar Tentang Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Perkara Aqidah
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link download tabligh akbar ini ke Facebook, Twitter, dan Google+ Anda. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda semua.
Pencarian: agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, agama islam, ceramah agama islam, ceramah agama islam singkat, ceramah agama islam mp3, kumpulan ceramah agama islam, artikel agama islam, pidato agama islam, video ceramah agama islam, islam agama sesat, tausiah agama islam, ajaran agama islam, dakwah agama islam, islam agama, kebenaran agama islam, ceramah singkat agama islam, pengajian agama islam, tausiyah agama islam, kumpulan pidato agama islam, video agama islam, ilmu agama islam, pelajaran agama islam, contoh ceramah agama islam, kumpulan ceramah agama islam singkat, ceramah agama islam terbaru, makna agama islam, info agama islam, kepercayaan agama islam, pengetahuan agama islam
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56064-mengapa-aku-memilih-dakwah-salafiyyah/